Jumat, 11 April 2014

KEBUDAYAAN TANAH TORAJA


Kapal layar Spanyol dan Portugis serta para pedagang Inggris dan Belanda mengarungi lautan Sulawesi Selatan untuk menguasai rempah-rempah. Mereka dikawal “prajurit perang” untuk bertahan dari serangan bajak laut Bugis dan Makasar. Keduanya terkenal sebagai pelaut ulung dan bermata pencaharian di laut.
Sejarah
Sejak awal abad ke-14, di wilayah terdapat beberapa kerajaan dan yang paling terkenal adalah kerjaan Luwu, Gowa, Soppeng, Tallo, dan Bone.
Pengaruh budaya Eropa telah ada sejak abad ke-16, ketika Portugis tiba di Makasar dan mencari dukungan dari raja Gowa.

Kerajaan Bone dan Gowa berperang tahun 1562 namun kemudian sepakat berdamai. Setelah mengalami pergolakan melawan penjajah Belanda dan pendudukan Jepang, Sulawesi Selatan akhirnya menjadi sebuah provinsi Indonesia tahun 1964.

Masyarakat dan Budaya
Orang Makasar dan Bugis adalah masyarakat yang religious, kebanyakan masyarakatnya beragama Muslim yang taat. Masyarakat Bugis adalah salah satu pelaut terbaik di dunia. Pelaut-pelaut Bugis, Bajau, Buto, dan Makasar telah melakukan perdagangan dengan negara-negara tetangga, dan yang paling menonjol dengan masyarakat Aborigin Australia selama ratusan tahun.  



Terlindung aman di luar gunung tinggi dan tebing batu granit, inilah tempat dimana  masyarakat Toraja tinggal, di sebuah lembah subur dengan terasering sawah menghijau dan perkebunan kopi yang subur. Inilah salah satu tempat terindah di Indonesia yang menyimpan daya magis dalam kultur extravaganza Tana Toraja serta bebatuan megalitik Lore Lindu.
Pesonanya terkuak ketika tengkorak-tengkorak manusia menunjukan kemisteriusannya kepada Anda juga puluhan kerbau dan babi yang pasrah disembelih untuk upacara kematian demi sebuah ritus ‘Orang Mati yang Hidup’ .
Di sinilah Anda dapat melihat situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir di Rante Karassik, dan perkampungan Kete Kesu unik. Semuanya terpeliharanya dalam bingkai adat budaya karena masyarakatnya sangat menghormati leluhur dengan tetap menjaga eksistensi pekuburannya.
Tahun 2004, berkat kekayaan budayanya, Tana Toraja dimasukkan dalam daftar sementara warisan budaya dunia oleh UNESCO (Inscription World Heritage-C1038). Menyambut hal ini masyarakat Toraja menggelar upacara Pesta Toraja (Toraja Fiesta) di pasar seni Rantepoa, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Acara tersebut menyuguhkan serangkaian tarian dan atraksi dari 15 kecamatan di Tana Toraja. Toraja Fiesta adalah salah satu perwujudan Rambu Tuka’, ungkapan kegembiraan
Ketika Anda pergi ke dataran tinggi Tanah Toraja maka bersiaplah terpesona keindahan alamnya yang menakjubkan. Di saat yang sama ada daya tarik dari masyarakatnya telah mempertahankan kepercayaan dan tradisi mereka dalam siklus kehidupan yang kekal dan kematian di Bumi.


Jalan dari Makassar ke Toraja sepanjang pantai sekitar 130 km kemudian berakhir di  pegunungan. Setelah masuk ke Tana Toraja di pasar Mebali maka Anda akan memasuki pemandangan luar biasa berupa batu granit abu-abu dan pegunungan biru. Keindahan ini sempurna dalam balutan kontras tumbuhan hijau.
Di sini, bangsawan Toraja diyakini keturunan dewa yang turun dengan tangga surgawi untuk tinggal di Bumi dengan alamnya yang indah ini.
Untuk menjaga kekuatan tanah dan rakyatnya, masyarakat Toraja percaya bahwa tanah ini harus dipertahankan melalui ritual untuk merayakan mereka hidup dan yang telah mati, melekat saat musim taman. Di Toraja kehidupan secara ketat dipisahkan dari upacara kematian.
Toraja terkenal dengan upacara kematian yang dapat berlangsung selama berhari-hari melibatkan seluruh penduduk desa. Tidak hanya pada saat berkabung tetapi juga untuk acara hiburan dan persaudaraan komunitas yang ada.


Upacara kematian, diadakan setelah musim panen selesai. Biasanya antara bulan Juli dan September. Sementara upacara kehidupan digelar saat musim tanam di bulan Oktober. Saat itu penguburan tidak di lakukan dengan segera tetapi ditunda selama beberapa bulan bahkan kadang bertahun-tahun, disimpan di rumah khusus hingga waktu yang tepat dan tersedianya dana.


Anda yang datang ke Toraja tertarik pada keunikan budaya juga pada ritualnya. Berpusat pada upacara penguburan dan kuburannya. Sementara yang lainnya memilih untuk melakukan trekking ke pedesaan sekitar Toraja yang hampir tak tersentuh. Mencumbu desa-desa terpencil atau berarung jeram di Sungai Sa'dan.
Ibu kota Toraja adalah Makale tetapi pengunjung biasanya pergi ke kota Rantepao, sebuah jantung Tana Toraja.

Kuliner
Sulawesi Selatan merupakan surga bagi pecinta kuliner. Mulai dari seafood, Chinese foodatau makanan yang paling terkenal yaitu soto makasar. Sop saudara mirip dengan soto tapi rasanya lebih tawar daripada. Konro juga salah satu makanan khas Sulawesi Selatan yang terkenal lezat.
Untuk cemilan, Anda mungkin ingin mencoba jalangkote, sejenis kue kering dengan isi yang lezat dan dimakan dengan saus cabai. Untuk makanan penutup, cobalah pisang epe, yaitu pisang yang disiram saus gula merah, biasanya dicampur nangka atau durian. Es palung butu, terbuat dari irisan pisang, es batu, santan, dan sirup merah, rasanya segar dan lezat. Pisang hijau adalah pisang yang dilapisi adonan terigu dan daun pandan, Dipotong lalu disiram sirup cocopandan.
Ada banyak restoran di tempat wisata dan warung di sepanjang jalan. Lebih baik bawalah makanan sendiri ketika berpergian. Apabila Anda datang bersama agen perjalanan maka akan dibawa ke restoran atau makanan bungkus di bus.

Menu khas makanan Toraja  yang dapat Anda cicipi adalah pakpiong ayam, sayur  daun ubi yang di tumbuk, sate keong, puding labu dan banyak menu khas lainnya yang khas dengan menggunakan media alas daun pisang. Pa'piong yaitu masakan tradisional Toraja yang dimasukkan ke dalam bambu berisi daging babi, daging kerbau, daging ikan mas. Namun, dagingnya tidak dicampur satu dengan yang lain tetapi dicampur dengan sayur dan bumbu. Sayurnya (utan bulunangko) atau sayur mayana yang kadang menggunakan buah nangka muda atau batang pisang. Bumbu sayur dicampur dengan garam, jahe, daun bawang dan cabe. Kadang juga daging babi, daging ayam, ikan mas atau daging kerbau ditambahkan darahnya dicampur baik daging yang sudah di potong kecil, sayur, dan bumbu. Setelah semuanya tercampur rata, lalu dimasukkan ke dalam tabung-tabung bambu muda yang sudah dipotong sepanjang ruasnya. Selanjutnya, bambu ditutup remasan daun pisang lalu dibakar langsung di atas perapian dengan kayu yang agak sulit terbakar dibentangkan melintang dan kedua ujungnya ditopang untuk menyandarkan bambu tersebut.


Tak lengkap jika Anda berkunjung ke Tana Toraja tanpa menikmati kopi toraja. Kopi toraja adalah satu minuman yang dicari oleh setiap orang yang berkunjung ke Toraja. Kopi Toraja sangat terkenal dan telah mendunia dikalangan pecinta kopi. Kopi toraja merupakan jenis kopi arabika (Cofeea arabica) yang dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 700 - 1.700 m dpl, dengan suhu rata-rata 16 - 20 °C beriklim kering selama 3 bulan per tahun berturut-turut.


Referensi :






Tidak ada komentar:

Posting Komentar